|
Written by Webmaster
|
|
Friday, 04 November 2011 05:39 |
|
Pulau Tikus
Kabupaten Banggai Kepulauan adalah salah satu daerah kabupaten paling ujung di Barat Laut Sulteng, terdiri dari gugusan pulau-pulau besar dan kecil baik yang didiami masyarakat maupun yang tidak, hal inilah yang membuat daerah ini memiliki potensi wisata alam khususnya wisata bahari yang sangat indah. Di daerah ini terdapat satu pulau indah yang kerap dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara, namanya pulau mekelu atau yang lebih popular disebut Pulau Tikus.
Keraton Raja Banggai Lokasi keraton terdapat di tengah kota Banggai, ibukota Kabupaten Banggai Kepulauan dimana di dalamnya terdapat keris kerajaan, payung kerajaan, alat musik kulintang dan pakaian kebesaran raja.
Kerajaan Banggai diperkirakan berdiri pada abad ke 13 tahun saka 1478 atau tahun 1365 Masehi. Kerajaan mi berada di bawah pengaruh Kesultanan Ternate di Maluku Utara. Bentuk bangunan keraton menyerupai keraton keraton yang ada di Tidore dan Ternate karena hubungan historis. Kerajaan Banggai dikenal sebagai kerajaan yang paling demokratis di dunia, karena tidak mengenal putra mahkota atau ahli waris. Siapa pun bisa diangkat sebagai raja atas keputusan Basalo Sangkep. Basalo Sangkep berfungsi sebagai Majelis Permusyawaratan Rakyat atau wakil rakyat.
Kerajaan Banggai juga memiliki bendera berwarna merah putih bersusun 13. Bendera in merupakan warisan rumpun keramat Paisutobui.
PANTAI LAMBANGAN PAUNO Obyek ini berupa tempat permandian pinggir pantai di desa Kendek yang berjarak 10 kilometer dari kota Banggai. Lambangan Pauno menjadi obyek wisata yang sangat representatif karena dapat dicapai dengan mobil atau sepeda motor. Lokasi ini memanjang sekitar 200 meter dengan pasir putih bersih. Batu karang, tebing terjal dan pohon ketapang memagar di ujung kiri kanan pantai membuat pemandangan menjadi indah. Ombak pantai seakan tak henti berkejaran sembarii menghempas ketika air pasang. Sementara saat air surut nampak bagaikan lapangan luas membentang. Pada musim tertentu air laut mengikis pasir-pasir pantai dan tertinggal hanya batu-batuan berwarna hitam. Sementara pada musim lainnya batu-batuan itu ditutupi kembali oleh pasir putih.

*Sumber Dinas Kebudayaan & Pariwisata Sulteng
|
|
Last Updated on Friday, 04 November 2011 07:26 |